Kisah Malim Deman

Thursday, January 28th, 2016 - Sumatera Barat

Kisah Malim Deman merupakan cerita rakyat daerah Sumatera Barat. Alkisah, Malim Deman adalah seorang pemuda yatim yang tinggal bersama ibu & pamannya. Setiap hari Malim Deman berkerja membantu pamannya, mengerjakan sawah ladang milik ibunya di pinggir hutan. Penasarankan bagaimana kisah selanjutnya,, kita baca bersama – sama yuuk…

Cerita Rakyat dari Sumatera Barat : Kisah Malim Deman

malimdeman

Pada zaman dahulu kala di suatu daerah di Sumatera Barat, hiduplah seorang pemuda yatim piatau ia bernama Malim Demam. Pemuda ini sangat rajin dalam bekerja dan akhlaknya sangat baik, sehingga ia cukup terkenal di desanya. Hampir setiap hari ia gunakan waktunya untuk menggarap sawah dan beberapa ladang sayuran sepeninggalan kedua orangtuanya. Letakkanya pun cukup jauh dari rumahnya. Ia bekerja dengan pamannya.
Di sekitar sawah yang ia garap, terdapat rumah yang ditempati oleh janda tua seorang diri. Masyarakat setempat memanggil janda tua ini dengan nama Mandeh Rubiah. Karena letak sawah dan rumah janda tua ini sangat dekat. Malim Deman sangat akrab dengan janda tua ini, bahkan Malim Daman sudah dianggap sebagai anaknya sendiri. Kearaban yang terjalain terjadi karena setiap istrihat dari menggarap sawah, Malim Daman selalu menggunakan teras rumah janda tua ini sebagai tempat berteduh dan istirahat, terkadang janda tua ini memberikan minum dan makanan seadanya yang ada dirumahnya. Karena hal inilah terjalin hubungan seperti seorang ibu dan anak.
Pada suatu malam, seperti biasanya Malim Deman kembali kesawah untuk menjaga tanaman padinya. Ia sendirian menjaga padi ditengah-tengah sawah tanpa ada rasa takut sedikit pun, karena hal tersebut sudah sering dilakukannya. Beberapa jam menunggu sawah Malim Deman merasa tenggorokannya kering, sehingga ia berniat untuk meminta air minum dirumah Mandeh Rubiah janda tua yang rumahnya di dekat sawanya. Lantas ia lansung menuju rumah Mandeh Rubiah untuk segera meminta air minum. Sebelum Malim Deman tiba di rumah Madeh Rubiah, Malim Deman mendengar ada suara beberapa perempuan di belakang rumah Mandeh Rubiah. Dengan berjalan pelan-pelan agar tidak diketahui kedatangannya, Malim Deman segera menuju sumber suara yang didengarnya itu.
Malim Deman terkejut dan dengan perasaan tidak percaya, ternyata suara yang ia dengar merupakan suara tujuh bidadari yang sedang mendi di kolam yang berada tepat di belakang rumah Mandeh Rubiah. Malim Deman sangat terpesona dan seakan-akan jantungnya berhenti berdetak tatkala melihat kecantikan para bidadari itu yang wajahnya begitu bersinar ketika para bidadari terkena sinar rembulan yang tengah purnama. Malim Deman juga melihat tujuh selendang yang tergeletak tepat di dekat kolam itu. Malim Deman berpikir bahwa selendang itu digunakan para bidadari untuk terbang kekhayangan. Maka, dengan pikran seperti itu, Malim Deman dengan berjalan mengendap-endap dia mendekati tujuh selendang bidadari itu dan mengambil salah satu dari selendang. Setelah mengambil salah satu dari selendang bidadari itu, Malim Deman dengan cepat langsung menyembunyikan dan ia kembali mengintip ketujuh bidadari yang sedang mandi tersebut.
Menjelang waktu pagi datang, tujuh bidadari telah selesai dan memakai dari mandinya dan berniat untuk kembali kekhayangan, kemudain para bidadari mengambil selendang mereka masing-masing. Tetapi salah satu bidadari yaitu bidadari yang paling muda sendiri umurnya, terkejut ketika melihat selendangnya tidak ada, setelah beberapa saat mencari tetap saja ia tidak dapat menemukan selendangnya. Para bidadari-bidadari lainpun mengerahkan kemampuannya untuk ikut mencari selendangnya, nemun hingga menjelang fajar selendang bidadari yang paling muda tetap saja tidak ditemukan. Karena matahari tidak lama lagi akan terbit, maka dengan terpaksa keenam bidadari yang sudah mendapatkan selendangnya meninggalkan bidadari yang paling muda ini. Dengan selendangnya itu para bidadari terbang secara bersamaan menuju ke khayangan.
Sepeninggalan bidadari-bidadari yang lain, bidadari yang paling muda ini menangis. Ia ketakutan untuk tinggal di bumi seorang diri. Melihat secara langsung kejadian tersebut, Malim Deman lantas mendekati dan menghibur bidadari itu dan menanyakan siapa sebenarnya namanya, bidadari menjawab bahwa namanya adalah putri bungsu. Malim Deman kemudian mengajak bidadari itu kerumah Mandeh Rabiah. Dengan hati yang sangat gembira Mandeh Rabiah menerima bidadari itu dan mengakuinya sebagai seorang anak.
Setelah mengantarkan bidadari yang bernama putri bungsu itu, Malim Deman kembali kerumahnya. Sesampainya dirumah, Malim Deman menceritakan kejadian yang dialaminya kepada pamannya. Dan dijelaskan pula jikalau dirumah Mandeh Rabiah ada bidadari yang sangat cantik sekali. Kemudian Malim Deman menyembunyikan selendang yang ia ambil tanpa sepengetahuan bidadari.
Sejak saat itu Malim Deman semakin rajin berkunjung kerumah Mandeh Rabiah untuk sekedar menemui putri bungsu. Malim Deman dan putri bungsu pun semakin mengenal dan semakin akrab. Tidak lama kemudian dari keakraban tersebut mulailah muncul perasaan saling jatuh cinta. Kemudian setelah memadu kasih beberapa saat akhirnya Malim Deman dan putri bungsu melangsukan pernikahan. Tidak beberapa lama mereka dikaruniai anak laki-laki yang gagah dan memberinya nama Sultan Duano untuk anak tercintanya itu.
Putri bungsu semula sangat merasakan kebahagiaan yang tiada terkira memiliki suami seperti Malim Deman. Namun sejak Sutan Duano lahir, sikap Malim Deman menjadi berubah sedikit demi sedikit. Malim Deman menjadi lebih banyak menghabiskan waktunya disuatu tempat perjudian. Ia mulai menyukai menyabung ayam dengan menggunakan taruhan. Begitu menyukainya dengan dunia perjudian, Malim Deman seringkali tidak pulang berhari-hari lamanya.
Putri bungsu sangat bersedih melihat sikap sang suami yang semakin berubah menjadi sangat buruk. Ia terkadang menangis sendiri meratapi nasib yang dijalaninya. Kerinduannya untuk pulang kembali ke asalnya sekilas sering muncul tatkala ia meratapi nasibnya. Hingga semakin lama rasa untuk pulang ke khayangan semakin besar. Hingga pada suatu saat dia secara tidak sengaca menemekan selendang yang di sembunyikan oleh Malim Deman. Lantas dengan menemukan selendang tersebut, putri bungsu menemui teman dari Malim Deman. Dan meminta tolong untuk disampaikan kepada Malim Deman, bahwa dirinya dan putranya Sutan Duano akan kembali ke tempat asalnya yaitu khayangan.
Teman dari Malim Deman segera mencari dimana Malim Deman berada, ternyata Malim Deman sedang berada di tempat perjudian. Setelah bertemu dengan Malim Deman, temannya itu menyampaikan pesan yang telah diberikan putri bungsu.
Mendengar berita tersebut, Malim Deman panik dengan terburu-buru ia segera pulang kerumah untuk menemui istrinya dan anaknya. Namun sudah terlambat. Sesampainya dirumah, istri dan anaknya sudah tidak ada. Istrinya telah membawa anak kesayangannya kembali ke khayangan. Malim Deman hanya dapat menyesali kepergian anak dan istrinya. Namun penyasalan hanyalah sebuah penyesalan, yang tidak mungkin akan bisa dikembalikan seperti semula. Akibat sikap buruknya tersebut, Malim Deman harus kehilangan keluarga yang sebenarnya sangat ia cintai.

Pesan Moral :

Kita dapat mengambil hikmah dari kisah  Dongeng/cerita rakyat Sumatera Barat (Kisah Malim Deman), salah satu hikmah yang dapat kita ambil adalah berjudi hanyalah akan merugikan diri sendiri dan keluarga di kemudian hari. Hendaknya kita menghidari perbuatan buruk tersebut agar tidak mengalami kerugian di kemudian hari. Kita juga harus berhati-hati dalam bertindak karena penyesalan dikemudian hari tidak ada gunanya.

*Diambil dari beberapa sumber

dongeng cerita malim deman cerita malin deman hikayat malim deman cerita malin deman arab melayu legenda malin deman rangkuman cerita malim demam cerpen malim deman cerita tentang malin deman ringkasan cerita malim deman cerita rakyat malim deman cerita rakyat malim demam arab melayu malin deman cerita malin dema (b ndonesia) Cerita malim dewa armel cerita malim dewa arab melayu cerita lengkap malim demam cerita dengan tulisan arab melayu malim dewa carita malim deman tulisan arab melayu tentang malin deman
Kisah Malim Deman | nayla | 4.5
Leave a Reply