La Onto Ontolu – Cerita Rakyat Sulawesi Tenggara

Saturday, May 7th, 2016 - Sulawesi Tenggara

Cerita Rakyat La Onto-Ontolu dalam bahasa Buton (Sulawesi Tenggara) berarti telur. Setelah tinggal di bumi, ia menikahi putri bungsu Raja Buton. Namun, keenam kakak kandung putri bungsu tidak menyukai pernikahan adiknya. Suatu hari, mereka berniat untuk mencelakai La Onto-Ontolu. Berhasilkah rencana itu? Ikuti kisahnya dalam cerita La Onto-Ontolu berikut ini.

 

img4d6b03c41a14d_Foto-1-La-Onto-Ontolu

La Onto Ontolu – Sulawesi Tenggara

Alkisah, ada seorang puta raja bulan turun ke bumi. Ia bernama La Onto-ontolu. La Onto-ontolu adalah putra sulung raja bulan yang gagah perkasa.

Suatu ketika, La Onto-Ontolu sempat menyaksikan keindahan panorama bumi. Ia sangat tertarik dengan keindahan alam bumi ini. Rasanya ia ingin terjun ke bumi, ingin menikmati alamnya.

Pada suatu hari, La Onto-Ontolu menyamar menjadi sebutir telur. Setelah itu, ia meluncurkan dirinya ke bumi. Telur itu hinggap  di petarang  ayam (sarang tempat ayam bertelur) nenek tua. Pada saat itu, nenek tua berada di kebunnya.  Tiba-tiba terdengar olehnya kotek-kotek ayam ramai bersahut-sahutan sebagai tanda ada sesuatu yang aneh bagi mereka. Suara ayam yang gaduh itu sempat di dengar oleh nenek tua di kebun. Kotek-kotek ayam itu mengundang perasaan si nenek tua untuk segera kembali ke pondoknya. Dengan tak berpikir panjang lagi, nenek tua segera kembali ke gubuknya. Ia khawatir jangan-jangan telur ayamnya dimakan oleh burung gagak.

Dari kebun, nenek tua langsung melihat petarang ayamnya. Dengan langkah hati-hati, ia memeriksa telur ayamnya. Wauw…, alangkah terkejutnya ketika tiba-tiba ia melihat sebutir telur raksasa. Si nenek tua itu keheran-heranan melihat telur sebesar itu. Selama hidupnya, ia belum pernah sebesar itu. Diambilnya telur itu, lalu disimpannya didalam keranjang. Keesokan harinya, si nenek tua pergi lagi ke kebun.pergi diwatu pagi, pulang ke gubuk setelah ia lapar disiang hari. Pada hari itu, ia amat kesal karena makanan yang telah disiapkan nyaris ludes. Siapa yang melahapnya? Nenek tua sendirian tidak tahu. Bahkan air ditempayang pun kering sama sekali.

“Wah…,wah…,wah!Keterlaluan sekali ini. Siapa gerangan yang melahap semua ini?”

Keesekan harinya begitu lagi. Makanan dan air nenek tua habis sama sekali. Si nenek tua bertambah bingung.

“Dari mana orang yang menghabiskan makanan dan air di gubukku ini?” nenek tua bertanya dalam hatinya.

Rasanya, si nenek tua ini tidak sabar lagi. Ingin sekali ia melihat orang yang selalu menghabiskan makanan dan airnya itu.

Pada suatu pagi, sebelum pagi ke kebun, nenek tua lebih dahulu menyiapkan makanan. Di samping makanan, disiapkan pula sirih dan tembakau. Setelah itu, ia mengambil tembilangnya (alat untuk menyiangi rumput), lalu pergi ke kebun.

La Onto-ontolu merasa senang sekali karena banyak makanan yang disediakan. Gubuk sudah sepi. Mulailah La Onto-ontolu keluar lagi dari telur itu. Sebelum makan, ia mandi lebih dahulu.

Setelah itu, La Onto-ontolu mulai makan. Semua makanan yang tersedia dilahapnya samapai bersih. Makanan dihabiskan dan air pun dipakai mandi sampai kering. Di samping makanan tadi, tampak olehnya sirih dan tembakau. Dicobanya pula tembakau dan sirih itu. Karena tidak biasa, ia merasa pusing dan lama-lama pingsan.

Sementara itu, si nenek datang dari kebun. Alangkah terkejutnya pula ketika ia menoleh ke dapur. Terlihat olehnya sosok tubuh manusia yang tidak dikenalnya sama sekali sedang terbaring. Si nenek tua mau berteriak, tetapi suaranya tertahan akibat ketakutan. Dengan perasaan gemetar, si nenek tua itu mulai mendekati sosok tubuh yang terbaring itu.

“Siapa gerangan pemuda yang gagah perkasa ini?” Tanya si nenek tua dalam hatinya.

Disangkahnya sosok tubuh itu adalah mayat, ternyata masih hidup. Dengan hati yang waswas, si nenek tua itu berusaha menyadarkan pemuda itu. Tak lama kemudian, pemuda itu siuman dan sadar kembali. Alangkah malunya pemudah itu ketika dihadapannya duduk si nenek tua pemilik gubuk itu. Dengan rasa ikhlas, ia memohon maaf kepada si nenek tua itu.

Si nenek tua kini merasa gembira setelah mengetahui hal ihwal dan asal-muasal si pemudah itu. Setelah diselidiki, ternyata pemuda itu adalah putra raja bulan bernama Sumantapura. Ia turun ke bumi dengan menyamar ke dalam telur.

Tinggallah mereka berdua disebuah gubuk. Kehidupan mereka sehari-hari hanya cukup makan dan minum saja. Penderitaan ini telah lama berlangsung. Namun,Sumantapura dan si nenek tua itu saling mengasihi dan menyayangi .

Pada suatu waktu Sumantapura memohon pada Tuhan Yang mahakuasa agar menganugerahkan rumah mewah bertingkat beserta perlengakapan di dalamnya. Dalam sekejab, Tuhan mengabulkan permohonan Sumantapura. Rumah mega tiba-tiba berdiri dihadapannya. Tinggallah dia bersama si nenek tua dalam sebuah rumah mewah.

Rumah yang begitu indah rasanya sepi bila tak ada sang istri. Memohonlah Sumantapura kepadasi nenek tua itu agar melamar salah seorang putri raja negeri itu. Kebetulan putrid raja ada tujuh orang berdasaudara.

“Kalau boleh, tolong lamarkan putri sulung,” kata Sumantapura kepada si nenek tua.

Pergilah si nenek tua ke istana raja. Namun, sayang,lamarannya itu ditolak oleh putrid sulung karena nama pemuda yang melamar itu La Onto-ontolu yang artinya”telur”.

Memang nenek tua itu sengaja tidak memberitahukan nam La Onto-ontolu yang sebenarnya. Hal ini di sampaikannya kepada Sumantapura.

Sumantapura tidak putus asa. Ia memohon lagi kepada si nenek tua untuk melamar putrid kedua raja. Namun, hasilnya sama dengan yang pertama tadi.

Sumantapura pun tidak mengenal putus asa. Dilamarnya lagi putri yang ketiga, sampai kepada putri yang ketujuh. Putri yang ketujuhlah yang menerima lamaran Sumantapura.

Putrid bungsu itu sudah bertekad bulat walaupun pemuda itu bernama La Onto-ontolu. Oleh karena itu, ia diejek-ejek oleh kakak-kakanya.

Dengan hati yang sabar, cinta putrid bungsu tak luntur sedikit pun.

Pada suatu sore, Sumantapura berjalan-jalan di depan istana dengan menunggang kuda. Di sanalah mereka melihat sosok tampan pemuda itu. Barulah gadis-gadis itu menyeseli dirinya, mengapa tidak menerima lamarannya waktu itu. Namun, penyesalan mereka itu semuanya tidak ada gunanya.

Sumantapura hanya sejenak saja di situ, lalu kembali lagi kerumahnya. Sampai di rumah, ia menyuruh si nenek tua itu untuk membawa telur besar itu ke istana raja. Telur itu akan diberikan kepada sang putrid bungsu.

Pergilah nenek tua itu membawa telur kepada putri bungsu. Putrid bungsu dengan senang hati menerima telur itu. Di simpannyalah telur itu dekat tempat tidurnya. Selama ada telur itu, tampaknya ada keanehan-keanehan dalam istana. Air yang berlimpah di waktu sore, kering sama sekali di waktu pagi. Begitu seterusnya. Entah siapa yang memakai air itu, tak seorang pun yang mengetahuinya.

Pada suatu malam, putri  bungsu berusaha menjagai orang yang selalu menghabiskan air itu. Pada tengah malam, terdengar olehnya burai air seolah-olah ada orang yang mandi.

Benar juga. Sumantapura mandi di tengah malam. Putrid bungsu tetap di pembaringan, tetapi tetap terjaga. Dengan langkah perlahan-pelan, Sumantapura keluar dari kamar mendi menuju tempat tidur putrid bungsu. Putri bungsu semakin memperhatikannya. Lalu tampak olehnya seorang pemuda yang gagah perkasa. Pada saat itulah diketahui bahwa orang yang selalu menghabiskan air di tempayan adalah sang pemuda itu.

Mulailah diselidiki, siapa gerangan pemuda yang menyamar dalam telur itu. Setelah diketahui, ternyata pemuda itu adalahSumantapura. Dengan persetujuan kedua orang tua putri bungsu maka dikawinkanlah mereka.

Perkawinan mereka itu sungguh-sungguh menambah kekesalan dan kedongkolan kakak-kakak putrid bungsu. Dengan kedongkolan itu, mereka tetap mendedam pada adik bungsu mereka. Berbagai cara mereka lakukan agar putrid bungsu ini menderita.

Pada suatu waktu, kakak-kakaknya putri bungsu. Berencana mengajak si adik bersama suaminya pergi mandi-mandi ke laut. Ajakan itu di terimanya dengan senag hati. Putri bungsu pun langsung memberitahukan ajakan itu kepada suaminya. Selain membawa bekal, mereka juga membawa rokok, sirih, dan lain-lain.

Keesokan harinya, mereka pergi bersama-sama ke laut dengan menumpang perahu. Sampai di tengah laut, puan (tempat sirih) putri bungsu dibuang ke laut oleh kakaknya. Putri bungsu meraung-raung menangis kerena puan itu adalah puan emas kesayangannya. Terpaksa ia membujuk rayu suaminya agar mau menyelam ke dasar laut.

Atas dasar kasih saying dan cinta, terpak suaminya melompat ke laut. Baru saja ia melompat, kakak putrid bungsu segera mendayung perahu kembali ke darat. Suami putrid bungsu ditinggalkan di tengah laut. Putri bungsu tak dapat berbuat apa-apa. Tertinggallah Sumantapura sendirian di laut. Ia tawakal saja kepada Tuhan yang Mahakuasa.

Putrid bungsu telah kehilangan segalanya. Suaminya telah hilang ditelan ombak.

Kakak-kakak putrid bungsu merasa puas setelah melihat adik mereka itu menderita. Putrid bungsu pun kembali ke rumahnya dengan perasan hancur luluh.

Sekitar tengah malam, pintu rumah putri bungsu tiba-tiba diketuk, seraya meminta agar dibukakan pintu. Putri bungsu sangat ketakutan walaupun yang mengetuk pintu itu sesungguhnya suaminya sendiri, Sumantapura.

Putrid bungsu tidak percaya sedikit pun. Ia beranggapan bahwa suaminya telah meninggal di laut. Ternyata anggapannya tidak benar. Puan yang dibuang di laut itu didapatkannya kembali.

Dengan penuh rasa haru, terpaksa Sumantapura meninggalkan rumahnya hendak kembali ke bulan. Di kala itu putri bungsu sadar, jangan-jangan yang mengetuk pintu tadi adalah benar-benar suaminya. Dibukanya pintu. Ternyata benar, puannya ada di depan pintu.

Sementara itu, Sumantapura sudah berjalan jauh, tetapi masih mendengar teriakan istrinya. Sang putri bertekad mengikuti suaminya ke mana pun pergi.

Sumantapura mengajak putri bungsu pergi ke bulan. Putri bungsu pun mengikuti apa yang disarankan suaminya. Akan tetapi, syaratnya cukup berat: selama perjalanan tidak boleh mengeluh. Jika mengeluh maka kamu akan terjatuh kembali ke bumi. Semua syarat itu siap untuk dipatuhi.

Akan tetapi, apa hendak dikata. Tiba di pertengahan bumi dan bulan, putri bungsu mulai mengeluh kedinginan. Seketika itu juga ia terjatuh ke bumi. Yang tiba di bulan hanyalah Sumantapura sendiri.

Sampai di bulan,Sumantapura segera memerintahkan adiknya untuk mengambil putri bungsu di bumi. Dengan segala kesaktiannya, adik Sumantapura terjen ke bumi dan dalam sekejap pula ia bertemu dengan putri bungsu.

Pada saat itu juga, mereka terbanga ke bulan. Mereka tiba di bulan dengan selamat. Tinggallah mereka di istana raja bulan dalam keadaan sejahtera dan bahagia.

Pesan moral yang dapat diambil dari Cerita La Onto Ontolu – Sulawesi Tenggara adalah Orang yang sabar akan selalu disayang Tuhan. Sebaliknya, orang yang suka iri hati dan dendam akan mendapat balasan yang setimpal.

dongeng cerita rakyat buton dalam bahasa wolio cerita rakyat buton dalam bahasa buton cerita rakyat buton dalam bahasa inggris dongeng la onto ontolu
La Onto Ontolu – Cerita Rakyat Sulawesi Tenggara | nayla | 4.5
Leave a Reply