Cerita Rakyat Nusantara Panglima To Dilating

Saturday, November 18th, 2017 - Sulawesi Barat

Kisah Panglima To Dilating merupakan cerita rakyat nusantara yang berasal dari Sulawesi Barat. Dan ceritanya sangat menarik.. penasarankan…. yuuk.. kita baca bersama sama

Cerita Rakyat Nusantara : Panglima To Dilating

baratDulu di suatu bukit Napo di daerah Tammajarra, Pulowali Mandar berdiri suatu Kerajaaan Balanipa yang di pimpin oleh Raja Balanipa yang telah tiga puluh th. tak pernah ingin turun dari jabatannya.

Raja Balanipa inginkan berkuasa selama-lamanya. Ia memiliki dua anak laki-laki serta dua anak wanita. Walau demikian, ke-2 anak Iaki-Iakinya telah dibunuh olehnya, lantaran ia tidak ingin mewariskan jabatan Raja pada dua anak Iaki-Iakinya itu. Sang Permaisuri tak dapat berbuat apa-apa, ia senantiasa terasa kuatir bila tengah memiliki kandungan. Ia takut anak yang dikandungnya itu seseorang bayi laki-laki lantas bakal dibunuh lagi oleh suaminya.

Disuatu hari, sang Permaisuri tengah memiliki kandungan, sebentar lagi ia bakal melahirkan, ketika itu Raja Balanipa akan pergi berburu kurun waktu yang lama. Jadi sang Raja berpesan pada panglima Puang Mosso untuk melindungi permaisurinya serta meminta untuk membunuh bayinya jika yang lahir yaitu bayi laki-laki. Kemudian, berangkatlah Raja Balanipa ke Mosso.

Besok harinya, sang Permaisuri juga melahirkan seseorang bayi laki-laki yang tampan. Anehnya, lidah bayi itu berwarna hitam serta berbulu. Puang Mosso yang tahu bahwa permaisuri melahirkan bayi laki-laki, ia terasa kasihan serta tak tega membunuh bayi itu.

” Saya mustahil membunuh bayi yg tidak berdosa ini, ” ucap Puang Mosso sembari memandang bayi laki-laki di depannya. la memutar otak untuk menyelamatkan bayi laki-laki itu, pada akhirnya ia menitipkan bayi itu pada keluarganya yang tinggal di suatu kampung jauh dari istana. Lalu ia menyembelih seekor kambing serta dikuburkannya. Lantas ia buatkan nisan di atasnya. Hingga sang Raja bakal menduga bahwa isi kuburan itu yaitu bayi laki-lakinya.

Sebagian minggu lalu sang Raja Balanipa pulang ke istana serta segera menjumpai Puang Mosso, ” Bagimana situasi permaisuri? Apakah telah melahirkan? ” bertanya sang Raja.

” Ampun Raja, permaisuri sudah melahirkan seseorang bayi laki-laki. Serta hamba sudah membunuh serta menguburkannya di samping kuburan ke-2 anak laki-laki Raja yang lain, ” terang Puang Mosso.

Raja Balanipa selekasnya menuju tempat kuburan bayi laki-lakinya itu, ia belum meyakini bila belum lihat segera kuburan itu. Sesampainya disana, tampaklah suatu kuburan kecil yang masih tetap baru. Sang Raja juga yakin bahwa bayi Iaki-lakinya telah mati. la juga kembali menggerakkan tugasnya juga sebagai raja dengan perasaan tenang serta bahagia, lantaran tak ada lagi yang bakal menggantikannya.

Saat selalu bertukar, Putra raja yang dulu Puang Mosso titipkan di kampung halamannya telah besar, ia tampan serta kekar. Ia juga sangatlah akrab dengan Puang Mosso, lantaran nyaris tiap-tiap minggu Puang Mosso menemuinya dengan cara diam-diam, Puang Mosso juga menceritakan asal usulnya yang bahwa sesungguhnya ia yaitu Putra Raja Balanipa. Lalu Puang Mosso menitipkan anak itu lagi pada seseorang pedagang yang bakal berlayar menuju Pulau Salerno yang ada sangatlah jauh dari bukit Napo. Puang Mosso sangatlah takut bila sang Raja tahu bahwa anak laki-lakinya masih tetap hidup.

Di Pulau Salerno, Putra Raja Balanipa itu tumbuh jadi anak yang cerdas serta gagah. Ia sangatlah telaten bekerja serta pintar memanjat pohon kelapa. Sampai satu hari saat Ia tengah memanjat pohon kelapa, tiba-tiba

seekor burung rajawali raksasa menyambarnya, lantas membawanya terbang ke tempat yang jauh yakni di daerah Gowa, anak itu lepas dari cengkeraman rajawali raksasa hingga terjatuh di dalam sawah serta diketemukan oleh seseorang petani.

Si petani juga selekasnya melaporkan hal semacam itu pada Raja Gowa, Tumaparissi Kalonna. Lantas Raja itu meminta petani untuk membawa anak itu ke istana. Sang petani selekasnya membawa anak yang diketemukannya itu ke istana, saat sang Raja lihat serta mencermati anak itu, ia Iangsung tertarik lihat badan anak itu yang kekar, ia tertarik untuk menjaga serta mendidiknya supaya nantinya jadi panglima perang yang gagah serta perkasa. Satu tahun lebih lalu Putra Raja Balanipa itu betul-betul jadi panglima perang yang tangguh hingga pasukan Kerajaan Gowa senantiasa menang dalam perang melawan kerajaan manapun. Raja Gowa lalu berikan gelar panglima perangnya itu dengan gelar I Manyambungi.

Disamping itu, di Kerajaan Balanipa, kondisinya sangatlah memprihatinkan, Kerajaan itu telah tidak sesejahtera dahulu, rupanya Raja Balanipa yang disebut bapak kandung Panglima I Manyambungi sudah meninggal dunia serta digantikan oleh Raja Lego yakni seseorang Raja yang sangatlah kejam serta bengis. Ia sukai menganiaya rakyat, baik yang ada di lokasi kekuasaannya ataupun yang ada di negeri luar yakni negeri Samsundu, Mosso serta Todang-Todang. Hal itu bikin raja-raja negeri bawahannya jadi resah.

Mereka juga mengadakan musyawarah untuk mencari langkah singkirkan Raja Lego. Oleh lantaran panglima I Manyambungi telah populer ke beragam daerah, jadi beberapa raja negeri bawahan juga mengenalnya serta mereka setuju untuk mengundang Panglima I Manyambungi.

Jadi diutuslah sebagian perwakilan dari kerajaan-kerajaan bawahan ke Kerajaan Gowa. Setibanya disana mereka segera menyebutkan tujuannya, ” Hormat kami Tuan, Kami yaitu utusan dari kerajaan-kerajaan kecil di daerah Polewali Mandar. Maksud kehadiran kami yaitu mau meminta pertolongan Tuan untuk melawan Raja Lego yang bengis serta kejam itu, ” lapor seseorang utusan.

” Siapa Raja Lego itu? ” bertanya I Manyambungi.

” Dia yaitu Raja penguasa Kerajaan Balanipa yang menukar Raja Balanipa. la sukai menganiaya rakyat kami tanpa ada argumen yang pasti, ” tambah_ salah seseorang utusan.

I Manyambungi sangatlah terperanjat waktu mendengar jawaban itu. Ia jadi teringat dengan ayahnya, Raja Balanipa serta keluarganya yang pernah dikisahkan oleh Puang Mosso dulu, ” Bagaimanakah dengan Raja Balanipa serta keluarga istana yang lain juga Panglima Puang Mosso? ” bertanya I Manyambungi kuatir.

” Raja Balanipa serta permaisurinya sudah meninggal dunia. Sesaat sebagian keluarga istana yang lain telah mengungsi. Puang Mosso masih tetap hidup, bahkan juga dialah yang sudah menyelamatkan keluarga istana. Maaf Tuan, bagaimanakah Tuan bisa mengetahui Puang Mosso? ” bertanya utusan yang lain heran.

Lalu Panglima I Manyambungi menceritakan I asal-usulnya yang disebut anak dari Raja Balanipa. Beberapa utusan dari Mandar itu juga terperanjat serta selekasnya berikan hormat.

” Baiklah, saya bersedia menolong kalian, namun dengan prasyarat Puang Mosso yang perlu datang sendiri menjemputku, ” pesan Panglima I Manyambungi.

Beberapa utusan itu juga menyanggupinya. Sesampainya di Mandar, mereka selekasnya menjumpai Puang Mosso. Mendengar laporan beberapa utusan itu, Puang Mosso jadi heran serta kuatir kenapa mesti ia yang menjemputnya, siapakah sesungguhnya panglima perang dari Gowa itu. Puang Mosso selalu memikirkan sepanjang perjalanan ke Gowa.

Sesampainya di Gowa, Puang Mosso selekasnya menghadap Panglima I Manyambungi, hati Puang Mosso makin berdebar kencang sedang I Manyambungi yang senantiasa tersenyum sembari memandang Puang Mosso dengan mata berkaca-kaca, ” Kaukah Puang Mosso? ” bertanya Panglima I Manyambungi dengan mata berkaca-kaca.

” Benar, Tuan! ” jawab Puang Mosso kebingungan, ” Maafkan saya Tuan, bisakah Tuan menjulurkan lidah sebentar? ” pinta Puang Mosso hati-hati.

I Manyambungi lalu mengulurkan lidahnya, saat lihat lidah I Manyambungi berwarna hitam serta berbulu, jadi makin percayalah Puang Mosso bila panglima itu yaitu putra Raja Balanipa yang dahulu ia titipkan pada seseorang pedagang.

Puang Mosso selekasnya memeluknya sembari menangis haru, ” Engkaulah putra Raja Balanipa! ” ucapnya sembari memeluk erat I Manyumbungi yang juga membalas pelukannya.

” Benar Puang Mosso, terima kasih sudah menyelamatkan nyawaku saat saya masih tetap kecil dahulu, ” kata panglima I Manyumbungi. Puang Mosso menepuk-nepuk bahu I Manyumbungi sembari mengangguk.

Lalu waktu tengah malam, Puang Masso serta Panglima I Manyambungi beserta sebagian pengikutnya meninggalkan istana Kerajaan Gowa menuju bukit Napo. Mulai sejak waktu itu, Panglima I Manyambungi di kenal dengan nama Panglima To Dilating.

Disamping itu, Raja Lego makin kejam pada rakyat yang lemah, seluruhnya warga tidak ada yang berani melawannya. Jadi, waktu lihat hal semacam itu, Panglima To Dilating mengajak beberapa warga untuk memerangi Raja Lego, mereka menyepakatinya dengan penuh semangat.

Pada saat yang sudah ditetapkan, Panglima To Dilating beserta semua warga selekasnya menyerbu istana Raja Lego. Pertempuran sengit juga tak didapat dijauhi lagi. Pasukan Raja Lego pada akhirnya menyerah.

Disamping itu, Raja Lego yang dihadapi segera oleh Panglima To Dilating masih tetap dapat lakukan perlawanan. Keduanya sama-sama mengadu kesaktian. Tetapi pada akhirnya Raja Lego pada akhirnya kalah juga serta mati di ujung tombak Panglima To Dilating. Semua warga menyongsong kemenangan itu dengan sangatlah senang.

Pada akhirnya, Panglima To Dilating dinobatkan jadi Raja di bukit Napo. Sampai sekarang ini, makam Panglima To Dilating ada dibawah suatu pohon beringin yang rindang ada diatas bukit Napo, Polewali Mandar. Sulawesi Barat.

Pesan moral dari Cerita Rakyat Nusantara : Panglima To Dilating adalah berusaha dan belajar dengan sungguh-sungguh maka engkau akan mencapai cita-citamu.

 

Cerita Rakyat Nusantara Panglima To Dilating | nayla | 4.5
Leave a Reply